Luas dan nyaman tercermin dari kokpit Searay pesawat amfibi eksperimental buatan Progressive Aerodyne. Jendela pandangnya yang luas memungkinkan terik matahari membakar kulit penerbangnya.
Jendela pandang dan kokpitnya luas |
Mendarat di air merupakan hal menarik setelah terbang berjam-jam. Bagi sebagian orang, terbang dan mendarat di air mungkin merupakan semacam ‘mahkluk’ yang mengerikan. Kenyataan berkata lain, terbang dan mendarat di air tak sengeri yang dibayangkan. Terbang dan mendarat di air sama indahnya dengan sisi kehidupan lain. Tentu dengan syarat sarana dan prasarananya memadai.
Kehadiran pesawat amfibi memungkinkan terbang dan mendarat di air menjadi kenyataan. Di Indonesia populasi pesawat amfibi masih tak sebanyak pesawat sayap tetap yang hanya bisa mendarat di daratan. Meski demikian, di beberapa lokasi sempat ditemukan, pesawat terbang ringan yang dimodifikasi hingga mampu mendarat di air.
Dunia penerbangan Indonesia terutama aerosport menjadi lebih semarak dengan kehadiran sebuah pesawat amfibi eksperimental, Searay. Pesawat kecil berkapasitas dua orang penumpang ini didesain mampu mendarat di air tanpa perlu dimodifikasi lagi.
“Pesawat ini memang didesain mampu mendarat di air,” ungkap pemiliknya, Philip Soelistio. Menurut Philip, Searay bisa merealisasikan hobi melaut dan terbangnya. Sebelumnya ia sempat pula melirik pesawat jenis lain, namun setelah menimbang beberapa hal termasuk masalah teknisnya, ia memilih membeli Searay.
“Pesawat ini tidak ruwet dan bisa diandalkan. Pertimbangan lain, pesawat ini telah diuji dan disertifikasi. Lagi pula desainnya unik dan menarik,” ungkap si pemilik.
Philip boleh bangga dengan pesawat amfibinya. Apalagi bila menengok populasi pesawat yang lebih mirip pesawat mainan ketimbang pesawat sungguhan ini di Indonesia. Di sini hanya seorang Philip yang memilikinya. Lain halnya di Amerika, negara produsen pesawat berkursi ganda itu. Di sana populasi Searay sudah mencapai 200-an buah. Relatif banyak, apalagi bagi sebuah pesawat yang menurut Philip hanya merupakan hasil produksi pabrik sekelas industri rumah tangga di Indonesia itu.
Progressive Aerodyne, demikian nama pabrik pesawat itu, merupakan sebuah pabrik yang cukup berpengalaman melahirkan pesawat-pesawat eksperimental dalam bentuk kit atau pretelan. Demikian pula halnya dengan Searay Philip ini. Lambung pesawat yang terbuat dari fiberglass, rangka badan pesawat dan sayap yang terbuat dari aluminium, serta bahan-bahan lainnya dikemas dalam bagian-bagian dan mudah dirakit. Pabrik pesawat memperkirakan, merakitnya kembali membutuhkan waktu 350-450 jam saja.
Sejak pesawat itu diterima, bekerjasama dengan seorang teman, Philip merakit Searay-nya selama empat bulan. “Itu mulai dari merakit hingga mengecatnya,” kata Philip. Seperti halnya sebuah kit pesawat mainan, Progressive Aerodyne juga menyerahkan desain dan pemilihan warna pesawat sepenuhnya kepada pembeli. “Saya sengaja mendesain dan mengecat pesawat ini mirip warna dan desain armada US Coast Guard. Kalau di air pesawat ini pasti akan mencolok mata.”
Luas dan nyaman
Searay di Penggung, Cirebon |
Sebagai pesawat eksperimental, Searay terbilang unik dan gampang dioperasikan. Desain lambung pesawat yang streamline memungkinkannya mendarat di permukaan air dengan nyaman. Ujung sayapnya yang dilekuk ke bawah mampu mengurangi guncangan saat pesawat dihempas turbulens. Sementara pintu masuk yang lebar memungkinkan penerbang masuk ke dalam kokpit dengan mudah. Duduk di kokpit pun terasa nyaman. Jendela pandangnya yang luas memudahkan penerbang melihat-lihat sekelilingnya, meski di sisi lain luasnya jendela pandang bisa membuat seluruh badan terbakar terik matahari.
Dashboard didesain sangat sederhana. Di sana hanya terlihat indikator bahan bakar, tekanan dan temperatur pelumas serta mesin pesawat, tiga buah instrumen standar penerbangan berupa altimeter, indikator kecepatan vertikal (vertical speed indicator/VSI) dan indikator kecepatan pesawat, serta sebuah kompas di atasnya. “Tidak ada artificial horizon-nya. Semua indikator itu sudah cukup karena pesawat ini didesain untuk terbang secara visual,” kata Philip.
Beralih ke sistem kemudi, Searay bisa dikemudikan dari kedua kursi yang ditempatkan berjajar. Tuas flaps ditempatkan di atas bahu di tengah kokpit, sementara throtlle dan rem diletakkan di antara kedua kursi penerbang. Selain trim elevator dan pompa air elektronis untuk memompa air yang masuk saat berlabuh di atas air, semua sistem kemudi bekerja secara mekanik.
Hingga 100 jam terbang, Searay Philip masih bebas masalah. Yang dikeluhkan justru masalah kemudi pesawat. “Kemudinya relatif lebih berat bila dibandingkan pesawat fixed wing umumnya,” kata Philip. Menurutnya, mungkin disebabkan oleh banyaknya penghubung antara tuas kemudi dan alat kemudi pesawat. Engsel-engsel penghubung ini bisa menimbulkan sejumlah gesekan yang berakibat pada beratnya tuas kemudi. Mungkin juga akibat banyaknya engsel itu, pesawat tetap meluncur stabil walau penerbang tidak menyentuh tuas kemudi pesawat.
Mengacak-acak air
Pendaratan di bendungan Jatiluhur, Purwakarta |
Philips menyebut dirinya belum terlalu berpengalaman menerbangkan Searay-nya. “Baru sekitar 100 jam terbang,” katanya. Sementara untuk mendarat dan tinggal landas dari permukaan air, Philip baru melakukannya sekitar sepuluh kali, di antaranya mendarat di Bendungan Jatiluhur, Jawa Barat.
Desain sebagai pesawat amfibi tak membuat teknis menerbangkan Searay berbeda dengan pesawat sayap tetap umumnya. Yang membedakan hanya teknik mendarat dan tinggal landas dari permukaan air. Mendaratkan Searay di atas permukaan air sama dengan mendaratkannya di daratan. Meski demikian, bila ingin mendarat di air dengan mulus, aman, dan nyaman, penerbang perlu memperhatikan pola pendaratannya.
“Untuk mendarat di air, penerbang sebaiknya melakukan approach dengan sudut kemiringan yang sangat kecil, dengan cara selalu menjaga kecepatan vertikal pesawat pada 100-200 kaki per menit,” kata Philip. Selain itu, kata Philip, penerbang sebaiknya juga memperhatikan kondisi angin dan ombak di permukaan. “Ombaknya tidak boleh lebih besar dari yang disarankan, bisa dilihat dari adanya tidaknya buih di atas permukaan. Kalau sudah berbuih, cobalah untuk dihindari.”
Ombak dan angin yang bertiup kencang juga akan mempengaruhi manuver pesawat di atas pemukaan air. Ini pernah terjadi saat Philip mendaratkan pesawatnya di Jatiluhur untuk pertama kalinya. Saat itu angin memang bertiup cukup kencang dan kondisi ini rupanya mempersulit Philip membelokkan pesawat. Saat berbelok, angin meniup dan mengangkat salah satu sayap pesawat. Tiupan angin mengakibatkan pelampung yang digantungkan di sisi lain sayap pesawat terhempas ke permukaan air. Akibatnya mengurangi laju pesawat, sehingga pesawat pun sulit dibelokkan.
Beberapa hal juga perlu diperhatikan bila hendak tinggal landas dari permukaan air. Kondisi permukaan air merupakan salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Permukaan air yang bergelombang cukup besar akan menyulitkan, sementara permukaan air yang terlalu tenang justru membuat jarak tinggal landas pesawat menjadi lebih panjang.
“Permukaan air yang tenang membuat badan pesawat sulit lepas dari permukaan air,” kata Philip. Bila kondisinya demikian, penerbang bisa mengacak-acak permukaan air itu sehingga menjadi sedikit bergelombang. Setelah kondisi itu tercapai, penerbang bisa memacu pesawatnya melintas di atas riak air. Itu pun tidak sekadar mendorong throtlle. Agar meluncur dengan baik pada step-nya, sambil mendorong throtlle sebaiknya penerbang juga menarik tuas kemudi ke belakang.
Menurut Philip, ini perlu dilakukan demi menjaga agar pesawat tidak terjungkal saat pesawat mencapai kecepatan levelnya di atas permukaan air yang ditandai dengan dengan terangkatnya ekor pesawat dari dalam air. Bila ekor pesawat sudah terangkat dari dalam air dan pesawat meluncur pada step-nya, penerbang harus menjaga agar pesawat terus meluncur pada kondisi itu hingga mencapai kecepatan tinggal landas antara 60-70 knot.(ttg)–angkasa
..:: Komentar Terakhir ::..